Paranoia
I just don’t know what to do with myself…
Don’t’ know what to trust, when all begun to fade and bluring,
Mungkin aku ini memang orang yang aneh menurut pandangan orang normal, orang yang mudah dibuat permainan bagi yang licik, orang yang mudah diintimidasi bagi yang tidak menyukaiku. Sekali lagi entah kenapa orang bisa berbuat begitu padaku
Orang bijak pernah berkata, apa yang kau alami dan apa pendapat orang terhadap anda adalah buah dari perbuatan anda terhadap orang lain, benarkah? Aku mulai sedkit ragu. Aku lebih suka yakin bahwa ada yang aneh, entah aku atau orang-orang di sekitarku.
Tak bisakah orang-orang mempercayai bahwa aku hanya benar-benar ingin menolong tanpa pamrih? Aku takut tak berapa lama lagi aku akan tertular gejala yang sama, paranoia.
Yah, aku menyebutnya paranoia, entah pada tahap sekadar curiga atau sudah takut untuk menerima suatu hal tanpa ekspetasi lanjut. Contoh yang paling banyak terjadi di sekitarku, sangat sulit orang untuk berkenalan atau berinteraksi tanpa ada suatu hal yang menarik atau menyenangkan pada orang lain.
Kemarin seorang temanku dipandang rendah oleh seorang wanita, hanya karena ia tidak berpenampilan menarik. Temanku hanya ingin mendapat teman dalam perjalanan pulang di bus.
Lain lagi dengan temanku yang hanya tertarik pada kemewahan yang dimiliki oleh temanku yang lain, dan saat kemewahan itu hilang atau tak berfungsi, maka hilang pulalah keakraban mereka, naïf.
Memang, terlihat remeh, atau sudah merupakan hal yang biasa, tapi menurutku ITU KARENA DIBIASAKAN…,
Sudah lama terpikirkan olehku gejala seperti itu, dan akupun memakluminya. Semoga saja aku masih bisa bertahan dengan pendapatku sekarang, terserah apa jadinya nanti.
Meski terlihat sedikit idealis, dan barangkali misti, tapi tiada skeptis aku percaya akan ada yang mengenantnya, entah nol koma berapa persen dari penduduk dunia, ups, orang yang kukenal. Coba saja jika aku sebutkan Benjamin Franklin kepada sepuluh orang yang kukenal secara acak, atau anda boleh mencobanya, berapa orang dari mereka yang dapat menjawab dengan pasti apakah Benjamin tidak memiliki motif lain dalam kebaikannya? Atau bahkan anda tidak dapat menjawab secara yakin mengapa ia berbuat baik pada semua orang.
Untungnya saya dapat memaham, apa yang dilakukannya, tapi tetap saja saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata yang lebih tepat selain perkataan beliau sendiri “The Nobelest thingu can do is what u can do to another people” kurang lebih seperti itu.
terserah absurd atau tidak naif atau tidak