karma sebuah ucapan terkadang sangat menekan, bahkan pada kepentingan yang paling darurat sekalipun. ini merupakan pengalaman yang sebenarnya sangat memalukan untuk diceritakan, namun apa daya tangan usil ini tak kuasa tuk menahannya ( hehehehehe)
Pada awalnya hanya karena sedikit keserakahan seorang penjaga toilet umum. Seorang teman saya, dengan asyiknya menikmati kelegaan luar biasa setelah buang air besar, dipaksa untuk membuang kesenangan sesaatnya, ketika itu ia tidak mempunyai uang kecil sama sekali, ia hanya memiliki selembar uang lima puluh ribu dan selembar uang seribu. Pada saat itu, tertera tarif untuk buang air besar hanya Rp. 300. namun karena si penjaga tidak mempunyai kembalian, maka ia dikenakan tarif seribu ( mungkin dengan bilang "kalo be’ol disini lagi gratis deh mas" hehehehe, mungkin ) meskipun jelas-jelas teman saya memastikan pada saat ia membayar. Ini bukan lagi masalah nominal, tapi soal profesionalisme!! kilah teman saya ( emang ada profesi seorang pelanggan be’ol? )
Singkat kata, sejak saat itu ia bersumpah tidak akan buang air di wc umum lagi, Selamanya. Setidaknya itulah yang dia ucapkan saat itu. Memang ia berniat dengan sungguh-sungguh dengan sumpahnya.
Namanya nasib, suatu kali akan sial juga. Dalam perjalanan ke luar kota, di dalam bus, ia merasakan serangan karma itu. Dalam perjalanan ia terlihat sangat pucat menahan "serangan itu", saya tak sampai hati melihatnya, apalagi komentar soal "anginnya", ( saya pun juga tersiksa antara tawa+bau+malu+kasian, saya cuma bisa menutup wajah pake handuk). NAASnya lagi ternyata toilet dalam bus itu sedang "penuh" karena airnya belum terisi, jadi……..****
Tak tahan lagi, teman saya mengajak saya turun dengan alasan ia sangat lapar (teman saya tidak mau memberitahu saya kalau ia sakit perut), saya pun terpaksa ikut, padahal masih dua pemberhentian lagi sebelum tujuan. Di sinilah teman saya harus mempertaruhkan sumpahnya, sebab tidak mungkin di sebuah terminal terdapat wc yang bukan umum.
Di terminal ia langsung turun dengan cepat, lalu lari meninggalkan saya. Dari kejauhan ia jelas terlihat bingung, namun akhirnya ia langsung berlari keluar terminal menuju sawah, kebetulan letak terminal dekat dengan sawah, entah apa yang dilakukannya, saya tak tega untuk mengikutinya.
Tak berapa lama ia kembali dengan wajah yang ploong. Sedikit nakal saya bilang "Ayo makan, katanya kamu lapar?" ia langsung pura-pura batuk.
Lha Terus Kenapa ? (biar nyambung ama judulnya)