just a mumble mumble
Ada sebuah pertanyaan yang terlintas di benak saya, Mengapa film yang digarap dengan bentuk mendekati kenyataan (close to reality), meskipun dengan ide-ide besar, kurang mendapat sambutan setidaknya di Indonesia?
Mari kita lihat mata rantainya, mari kita bongkar polamya.
In my opinion :
-
Life is absurd (absurd=kenyataan yang menjemukan) and people are bored with that
-
Terlalu banyak kejemuan yang mereka temui tiap hari dan dimana-mana, disekitarnya, dan di dalam tubuh mereka pun banyak hal yang absurd.
-
Adanya Rasputin modern dari home produksi yang cerdik memanfaatkan situasi (Rasputin=tokoh Rusia)
Mari kita breakdown my concept
Absurd. Kata yang membuat kita berkata “aduh”. What is absurd?
Kenyataan sering menjemukan, mengerikan, menyakitkan, menyebalkan, menyenangkan, indah, kejam, ketat. Dari kata-kata yang saya ungkapkan sebagai ekspresi saya terhadap “kenyataan”, berapa hal yang (bisa disebut) baik / positif dan berapa yang negatif? (anda bisa mencoba sendiri untuk mengetahui anda bersikap positif / negatif terhadap kehidupan yang anda alami)
Saya menemui “kenyataan” setiap hari, setiap saat, tidak bisa saya hindari selamanya, dan pasti anda juga, entah baik atau buruk.
Sekarang, setidaknya di sekitar saya, banyak yang merasa jemu (entah mereka sadari atau tidak) dengan kehidupan mereka juga karena banyak faktor, kebanyakan karena hidup yang monoton, merasa kekurangan hiburan, dan ide-ide mereka sendiri.
Mulai dari sinilah terjadi apa yang dikatakan Albert Camus, Nietzsche dan kebanyakan tokoh eksistensialis. Mereka berusaha survive, karena jika tidak mereka akan mati. Dalam artian mati pola pikir dan daya hidupnya.
Naluri hewani manusia disini bertindak, hewan selalu merespon segala sesuatu yang dianggapnya membahayakan jiwanya. Manusia juga berlaku serupa baik disadarinya maupun tidak. (bukan berarti manusia merupakan evolusi hewan, hanya memiliki beberapa kesamaan)
Disini menurut saya manusia dalam menghadapi absurditasm juga melakukan naluri hewani tersebut, mereka mencoba survive, dengan apa? Ada yang lari, ada yang tidak dapat berbuat apa-apa dan ada yang menantangnya. Itu pilihan anda, setiap pilihan tentunya terserah pada setiap orang, dan setiap orang punya alasan dalam memilih, its their life anyway.
Dari sini pula Rasputin muncul bagi para orang untuk mengatakan apa yang orang-orang ingin dengarkan, bukan yang perlu didengarkan. Rasputin adalah penasihat Tsar Rusia Nicholas II dan Tsarina Alexandra, Rasputin adalah seorang penasehat yang Oportunist. Ia hanya menasehatkan hal-hal yang ingin mereka dengar meskipun itu merupakan bukan sebuah kebenarandan juga sebuah harapan palsu yang menyenangkan setiap yang mendengarnya. Itulah yang menjadikan Nicholas II dan Tsarina Alexandra menjadi pemimpin yang sangat dibenci rakyatnya.
Home produksi juga punya modus yang serupa, tidak sepenuhnya tentunya, mereka juga butuh untuk mengembalikan modal mereka dan yang terpenting thats make them live, its thier lifekeep. Tapi juga ada homeproduksi yang oportunist tepat seperti Rasputin.
Hasilnya tentu anda sudah bisa menduga, penonton dihadapkan pada film-film yang ingin anda dengar/anda nikmati atau film-film yang menyajikan kenyataan yang absurd pada anda? Its all about choosing your meme, both are part of memetics.
“The nobelest question in the world is,
what good may i do in it?”
Benjamin Franklin