Sumpal Kuping

its written to be read

Kalau saja, keep on dreamin

Filed under: Uncategorized — capitano at 12:50 pm on Sunday, September 7, 2008

percayakah anda pada sugesti?

seberapa besar anda percaya dan memanfaatkannya?

akankah berpengaruh pada orang lain, jika anda menanmkan suatu sugesti pada orang lain?

katakanlah pada sebuah kasus yang terjadi, pada siapa biar anda menilai sendiri, seseorang berkata “aku dapat dengan mudah menentukan apa yang akan terjadi pada diriku, dan bagaimana orang lain bersikap padaku, kuncinya terletak pada sugesti dan kepercayaan diri yang anda bangun atas sugesti tersebut”

sekilas, dia berkata hal yang sangat masuk akal, sangat simpel, meski butuh kemauan yang besar, lalu saya bertanya, dapat dengan begitu mudahkah terjadi? apakah semua orang dapat mempraktekannya?

saya memang selalu mencoba mencari celah untuk memberikan pandangan yang berbeda, terkadang meremehkan,

pada bukti yang ia berikan kepada saya, memang terlihat orang yang menerapkan apa yang ia katakan dapat dilihatsukses dengan sukses dan nyaman dengan tujuan yang ia inginkan, sesuai dengan sugesti tersebut tentunya,

lalu saya berpikir, bagaimana caranya saya ngeyel, hm… my bad habbit, dia hanya fokus dan beruntung karena menemukan objek-objek yang sejenis, toh di dunia ini semua beragam,(kembar identik pun pasti memiliki perbedaan) dan dia hanya berkata “lihat saja buktinya”, asem saya mati kutu kali ini

sampai saat ini, saya sendiri telah mencoba metodenya dan sedikit banyak berhasil, tapi justru saya merasa kecewa, aku bukan diriku lagi, aku harus memakai topeng tertentu untuk mendapatkan hal yang sebenarnya tidak begitu kuinginkan, meski kubutuhkan.

huwh.., enough this bullshit., no one want to read it anyway, hm.., soal firasat, dan rasa bersalah, lebih memukul daripada itu semua (ach tambah ga nyambung ah SHIT)

EBOUGH!!!

Filed under: Uncategorized — capitano at 7:03 pm on Friday, September 5, 2008  Tagged

Sudahlah..

tolong hentikan , aku sudah hampir menyerah, baru kali ini aku sangat terpojok dan kau terus menerus pojokkan aku, ah bukan kau. memang aku , aku yang seharusnya bisa menjawab tantanganmu. Kalau saja aku masih komplit seperti dulu.

kalau memang sudah tak mungkin kau lempar pisaumu, mengapa kau masih memakai kudaku, memang kau indian yang tak pernah kalah perang, selalu dapat kau hancurleburkan, strategi-strategi selicik tigabelasjuta sel otak sang jenderal taktik.

sekarang saatnya kau harus tidur, pulas, istirahatlah, mengapa masih kau paksa untuk naiki kudaku, kurasa kaulah yang sekarang mengujiku kawan. kau ingin kulemparkan pisaumu ke jantungmu agar aku tak melihatmu menaiki kudaku.

itukah yang kau inginkan kawan?

tidak, kau tidak berkata “ya” atau “tidak” atau “terserah” atau apalah, kau masih punya sikap. Sikapmu yang takkan pernah bisa kumengerti, mesti telah kujadikan rumahmu sebagai rumahku selama ini, pipamu sebagai pipaku

namun tetap saja kau takkan pernah bisa kumengerti…

matilah kawan, matilah dengan tenang, kau memang harus mati, jangan kau paksakan sampai kau mengalami kematian yang menyakitkan

kawan

semoga